Konstelasi Politik Sukoharjo

Sumarjono: KuRSI Jangan Hanya Jadi Broker!!!

eSKaHa – Sukoharjo | Kelahiran Komunitas Rakyat Sukoharjo (KuRSI) yang dideklarasikan pada tanggal 23 Juli 2017 yang lalu merupakan angin segar perubahan yang diharapkan oleh banyak kalangan.

Namun demikian, ada juga beberapa pihak yang mengkritisi kelahiran gerakan independen yang dikomandani oleh Joko Santoso ini.

Adalah Sumarjono, pegiat Komunitas Diskusi Lincak Sukoharjo yang menilai gerakan independen yang digagas oleh KuRSI ini masih belum bisa dikatakan konkret dan kurang membumi.

“Kegiatan advokasi dan sosialisasi undang-undang yang dilakukan oleh KuRSI itu sudah dilakukan oleh kawan-kawan LSM dan aktivis di Sukoharjo,” tutur pria yang akrab disapa Jono ini.

Menurut Jono, KuRSI seharusnya tidak menggandeng partai apa pun dalam proses meraih kekuasaan sebagai jalan mensejahterakan rakyat. Proses legal yang dimaksud adalah proses pengumpulan dukungan untuk pencalonan sebagaimana yang dimaksud undang-undang.

“Akan lebih menarik lagi jika penentuan calon yang diusung melalui tahapan survey yang akuntabel dan tidak terkesan asal comot saja,” jelasnya.

Mantan aktivis PRD ini menyarankan agar KuRSI fokus pada bagaimana calon yang di-usung bisa maju melalui jalur independen.

“Jangan sampai gerakan independen dianggap hanya sebatas broker dukungan bagi tokoh yang diusung,” pungkas Jono.

Lain halnya dengan pemerhati masalah sosial Sukoharjo, Adipta Widha A, yang justru pesimis dengan keberadaan KuRSI sebagai sebuah gerakan independen.

Dihubungi terpisah, lulusan Universitas Indonesia ini melihat bahwa kekuatan “merah” di Sukoharjo masih sangat dominan.

“Satu waktu, saya berbincang dengan seorang buruh yang dengan bangga mengatakan kalau dirinya “merah”,” terang Adipta.

Pria ini kemudian menangkap sebuah doktrin luar biasa kuatnya, ketika buruh tersebut tidak peduli siapa pun calon yang diajukan, asal “merah” pasti didukungnya.

“Tidak peduli calonnya busuk atau wangi, pinter atau bodo yang penting “merah”, tegas Adipta menirukan buruh yang ditemuinya.

Adipta melihat bahwa doktrinasi pada level bawah ini masih sedemikian kuatnya dan tidak mudah untuk merubah dalam waktu yang singkat.

“Yakin jalur independen bisa menyiasati hal ini?”, pungkas Adipta Widha A.

Facebook Comments

Related Posts

Add Comment