Konstelasi Politik Sukoharjo

KuRSI, Geliat Independen di Sukoharjo

eSKaHa – Sukoharjo | Komunitas Rakyat Sukoharjo Independen, menjadi akronim KuRSI, demikian nama yang disepakati untuk gerakan Independen di Sukoharjo yang dideklarasikan pada tanggal 23 Juli 2017 lalu. Gerakan politik yang dimotori Bambang Wahyudi, Yudanto Aribowo, Marsono, dan Joko Santoso ini berusaha menjadi alternatif dari pilihan-pilihan politik pragmatis yang berujung pada kekuasaan dinasti.

Yudanto Aribowo, juru bicara KuRsi menyatakan bahwa gerakan independen adalah sebuah gerakan yang tidak berafiliasi pada partai politik.

“Gerakan ini lahir karena jengah dengan kondisi partai politik di Sukoharjo yang direpresentasikan dalam fraksi-fraksi di DPRD yang seolah-olah hanya menjadi tukang stempel tiap-tiap kebijakan yang diambil oleh Bupati Sukoharjo,” jelas pria yang akrab dipanggil Yudi ini.

Yudi menjelaskan keprihatinannya yang mendalam demi melihat konstelasi politik Pilkada 2015 yang menurutnya tidak lebih hanya sekedar politik “dagang sapi”.

“Konsekuensi logis dari gerakan ini adalah bahwa kami kemudian menjaring beberapa tokoh yang layak untuk maju dari independen,” tutur pegiat dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UMY ini.

Saat ditanya siapa saja yang sudah masuk dalam bursa penjaringan calon, Yudi kemudian menyebut beberapa nama yang tidak asing dalam percaturan politik di Sukoharjo.

“Martono (Ketua Yayasan Pendidikan Martha Abadi Sukoharjo), Haryanto (Mantan Wakil Bupati Sukoharjo), Guntur Subyantoro (Mantan Ketua PDM Sukoharjo), Wiwoho Aji Santoso (Ketua PDM Sukoharjo), dan Samrodin (Ketua Badqo TPQ Sukoharjo),” terang pria kelahiran Kragilan, Mojolaban ini.

Yudi melihat animo masyarakat yang antusias terhadap gerakan independen ini disebabkan oleh isu yang berkembang bahwa tahun 2020 adalah pertempuran dua dinasti, yaitu dinasti Bambang Riyanto melawan dinasti Wardoyo Wijaya.

“Di sini lah peran KuRSI memberikan pendidikan politik dan kami akan terus berusaha mencerdaskan masyarakat Sukoharjo,” pungkas Yudi.

Sementara itu, dihubungi terpisah, Ketua DPD Partai Nasdem Sukoharjo, Agus Tri Raharjo, S.E., menganggap keberadaan gerakan independen ini sebagai hal yang wajar dalam sebuah konstelasi politik.

“Itu sah-sah saja, cuman kita harus realistis,” ujarnya ditemui eSKaHa di Warung Srawung, Solo Baru.

Mantan Kades Gedangan ini kemudian memberi gambaran prosentase pengguna media sosial ketika dibandingkan dengan kondisi riil pada hitung-hitungan politik saat pencalonan.

“Ahok kurang apa, dana tersedia, populer, dan punya jaringan luar biasa, itu saja gagal maju dari independen. Jadi menurut saya sulit mas untuk 2020 nanti independen bisa mengajukan calon” tegas Ketua Forum Pembaharuan Desa ini.

Sementara itu, Ketua KuRSI, Joko Santoso, menjelaskan bahwa KuRSI sebagai sebuah gerakan politik tidak hanya sekedar lips service tanpa tindakan nyata. Ia menceritakan kegiatan-kegiatan pro-rakyat yang selama ini dilakukan untuk mencerdaskan dan meraih simpati dari masyarakat Sukoharjo.

“Dari sisi pendidikan politik, kamu terus melakukan diskusi-diskusi yang bisa di-ikuti oleh siapa pun sehingga paham betul kondisi yang terjadi di Sukoharjo saat ini,” ungkap pria yang akrab dipanggil Jokontino Rossi ini.

Lebih jauh, Joko kemudian menjelaskan aktivitas KuRSI membagikan buku-buku perundang-undangan kepada masyarakat dalam kerangka mencerdaskan warga Sukoharjo.

“Kami sosialisasikan Undang-Undang Tipikor, Desa, dan Keterbukaan Informasi Publik supaya warga memiliki pengetahuan dalam tiga hal krusial ini,” jelasnya.

Pria kelahiran Tawangsari ini juga menceritakan bagaimana KuRSI melakukan pendampingan-pendampingan terhadap kepentingan kaum marginal.

“Contoh sederhana, ketika ada warga yang kesulitan mengurus dokumen kependudukan entah akta kelahiran, KK, atau KTP, kawan-kawan di KuRSi berusaha hadir memberikan bantuannya,” pungkas pria yang gemar naik gunung ini.

 

Facebook Comments

Related Posts

Add Comment