Nila Setitik dalam Kebenaran

Ayo Kita Fitnah Puan!!!

Sabtu, 22 Juli 2017 Pukul 17.38 WIB, akun Facebook Mae Ilyas Wirjaya memposting dua buah foto Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Puan maharani.

Pada bagian caption dia tuliskan kalimat sebagai berikut:

Ibu Mentri sedang memberi contoh cara mengotori jalan dengan aksi corat coret …..

Seperti ABG2 labil yang kurang asuhan orang tua… 😃

Tadinya, saya tidak begitu menggubris postingan yang di-share seseoang dan lewat di beranda saya ini. Tapi mengamati komentar-komentar yang mulai tidak proporsional, cenderung menyerang kehormatan seseorang tanpa disertai data yang jelas, umpatan dan cacian, saya jadi tergerak untuk membuat tulisan sederhana ini.

Ada dua poin penting dalam caption yang dibuat oleh akun Facebook Mae Ilyas Wirjaya.

  1. Opini yang dibangun bahwa Ibu Menteri (Puan Maharani, red) memberi contoh (buruk) cara mengotori jalan dengan aksi corat-coret, dan
  2. Menyerang kehormatan sang Menteri dengan menganggap sebagai ABG labil yang kurang asuhan orang tua.

Poin pertama jelas-jelas fitnah, kenapa? Baik pengikut maupun teman-teman dari akun Mae Ilyas Wirjaya langsung menimpali dengan komentar-komentar yang cenderung membuli daripada lebih dahulu mencari kebenaran informasi dari kedua foto yang diupload tersebut.

Coba sedikit saja kita mau membuka mesin pencari Google, ketik lah keyword berikut, “target puan 27,02 persen”, anda akan mendapatkan banyak informasi bahwa foto tersebut di ambil pada 9 April 2014, dan Puan mencoret paving block di rumah ibunya sendiri, Megawati di  Kebagusan.

Corat-coret itu masih dalam suasana hitung-cepat hasil Pemilu Legislatif 2014. Jelas Puan tidak corat-coret di jalan dan tidak ada substansi memberi contoh buruk. Yang dilakukan Puan adalah upaya sugesti mental karena waktu itu Puan adalah Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP.

Poin kedua, lepas dari penilaian publik seperti apa terkait kinerja dia sebagai menteri tapi melakukan judge terhadap Puan sebagai ABG labil jelas-jelas merupakan penghinaan.

Boleh lah kita mengkritisi kinerja aparatur pemerintah tapi bukan dengan melakukan fitnah. Kita boleh memberikan penilaian atas apa yang sudah dilakukan Puan tapi bukan dengan melakukan hal-hal di luar etika kepantasan.

Caption dua poin di atas, dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan perubahannya pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 masuk kategori penghinaan dan atau pencemaran nama baik yang diancam dengan hukuman maksimal 4 tahun penjara dan atau denda maksimal 750 juta.

Saya tidak akan fokus ke aspek hukumnya karena ada penegak hukum yang lebih layak, lagi pula ini masuk dalam delik aduan bukan delik umum. Saya hanya mengajak siapa pun itu yang berkenan, untuk proporsional mengkritisi sesuatu. Jangan karena dongkol kepada Puan, bahkan hal yang tidak dilakukannya pun kita tuduhkan dan menjadi fitnah yang peribahasa mengatakan bahwa “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”.

Biasakan melakukan cek dan ricek atas sebuah informasi yang diterima dan akan dibagikan sehingga kita tidak melakukan ketidakadilan dengan membagikan informasi yang tidak faktual dan cenderung merugikan orang lain, yang bahkan kita tidak mengetahui atau menyadarinya.

Mari kita saling mengingatkan, bahwa kebenaran adalah kebenaran. Yang paham tapi diam saja melihat fitnah terhadap Puan ini sama saja ia berteriak, “Ayo Fitnah Puan!!!”. Kebencian kita sangat-sangat tidak layak untuk menjadi justifikasi atas fitnah kepada orang yang kita benci.

Untuk yang memang karena ketidaktahuan, mencemooh, mencaci, bahkan mulai menyerang hal-hal yang sifatnya pribadi segera sadar, syukur-syukur mau minta maaf apa pun caranya kepada yang telah menjadi korban fitnah.

Sampai tulisan ini dibuat, posting tersebut telah disukai sebanyak 574, dibagikan 2.506 kali, dan dikomentari sebanyak 248 komentar.

Teringat akan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, bahwa kita harus adil sejak dalam pikiran dan lebih spesifik lagi, jangan karena kesalahan seseorang membuat kita berbuat tidak adil pada yang lainnya.

Saya bukan pendukung Puan dan tulisan ini bukan karena pesanan, murni karena kemanusiaan.

Toying Harwulan

Facebook Comments

Related Posts

Add Comment