Dugaan Imigran Gelap asal Malaysia

Aparat Imigrasi Grebeg Sebuah Rumah di Klaten

eSKaHa – Klaten | Aparat Imigrasi Kelas I Surakarta, dipimpin Kasubsie Pengawasan, Cun Sudarto melakukan penggerebegan sebuah rumah kontrakan yang diduga ditempati imigran gelap asal Malaysia di Perumahan Griya Taman Srago, Gumulan, Klaten Tengah, Klaten, Selasa, 17 Januari 2017.

Sekira Pukul 12.20 WIB, aparat imigrasi mendatangi rumah kontrakan yang diduga menjadi tempat persembunyian imigran gelap asal Malaysia ini.

Terlihat turut berjaga-jaga di luar, Iptu Suharto, Wakapolsek Kota Klaten, seorang babinkamtibmas bernama Nandar, dan beberapa pamong desa Gumulan.

Seorang laki-laki yang kemudian diketahui bernama Andi Eko Anggoro Putra (35 tahun) yang mengaku sebagai suami Yunita Azura Putri (40 tahun), terduga imigran gelap asal Malaysia ini keluar menemui aparat imigrasi yang menyambangi rumah tersebut.

Cun Sudarto, menyampaikan maksud kedatangannya sambil menunjukkan surat tugas kepada Andi yang kelihatan tergagap dengan penggerebegan ini.

“Informasi dari siapa eh pak?” tanya Andi kepada petugas dengan gugup.

“Mohon maaf Pak Andi, kami tidak bisa menginformasikan identitas pemberi informasi”, jawab Cun Sudarto

Andi kemudian mengulang pertanyaan yang sama dan Cun Sudarto bersikukuh tidak bisa menyebutkan identitas pemberi informasi.

Sesaat kemudian Andi memanggil Yunita dan yang bersangkutan keluar dengan raut muka ketakutan.

Ditanyai aparat imigrasi, Yunita mengaku sebagai WNI kelahiran Medan, 22 September 1977, 12 bersaudara, anak nomor 5 dari pasangan Jamian dan Juriyah.

Saat dicecar dengan pertanyaan detail di mana tinggal di kota Medan, Andi mendahului menjawab.

“Medan kota” kemudian di-iyakan oleh Yuni.

Ditanya kapan kepindahan dari Medan, Yuni tidak bisa menjawab detail tahun kepindahan.

“Ya ngikut suami itu”, jawab Yuni di-iringi anggukan kepala Andi.

“Tahun berapa? Cecar Cun Sudarto dan dijawab secara serampangan oleh Andi.

“2011 apa 2012”, sambil melirik Yuni yang justru dijawab berbeda oleh Yuni

“10 (2010, red)”, sergah Yuni.

Yuni juga mengaku kepada petugas bahwa kepergian baik ke dan dari Malaysia tanpa disertai dokumen keimigrasian.

Hal yang kemudian sangat janggal adalah ketika ditanyai di mana pernikahan Andi dan Yuni, dijawab oleh Andi bahwa pernikahan terjadi di KUA Sumberejo.

Sumberejo adalah nama Desa tempat Andi dan Yuni bermukim sebelumnya dan lazimnya nama KUA tentu mengikuti nama Kecamatan yang bersangkutan (seharusnya KUA Klaten Selatan, red).

Pantauan eSKaHa di lokasi, Andi terlihat sering mengalihkan perhatian setiap kali Yuni tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh petugas imigrasi.

Karena jawaban Andi dan Yuni tidak mampu membuktikan bahwa Yuni adalah WNI, diperkuat dengan bahwa mereka tidak bisa menunjukkan akta nikah, bukti kepindahan, dan akta kelahiran kedua anak hasil hubungan Andi dan Yuni, pihak Imigrasi kemudian memutuskan untuk membawa Andi dan Yuni ke kantor Imigrasi Surakarta untuk diperiksa lebih lanjut.

Andi kemudian mengajukan permintaan untuk didampingi ibunya dalam pemeriksaan dan di-iyakan oleh petugas imigrasi.

Kepada eSKaHa, Kasubsie penindakan Imigrasi Solo, Yudistira menyampaikan bahwa kemungkinan besar Yuni jelas bukan WNI.

“Saya kecil di Medan, dia tadi ngaku di Medan tapi saya tanyai tempat seputar Medan tidak ada yang tau”, jelas Yudis.

Beberapa saat kemudian ibu Andi datang (sebelumnya Andi memberi keterangan kepada petugas bahwa Ibunya berada di RS. Bethesda Yogyakarta, red) dan kemudian juga ikut dibawa ke kantor imigrasi Surakarta.

Baca:

Orang Tua Andi Mantan Pejabat Klaten

Informasi yang dihimpun eSKaHa, penggerebegan ini adalah kali kedua setelah yang pertama gagal karena diduga rencana penggerebegan bocor dan diketahui oleh pihak Andi dan Yuni sehingga keduanya pindah ke tempat yang sekarang (Perumahan Griya Taman Srago, red).

Facebook Comments

Related Posts

Add Comment