Kisah Pilu Sopir Bajaj asal Sukoharjo

Indrawiyana: Suprapto Merusak Citra Polri?

eSKaHa – Jakarta | Pegiat Penerapan dan Penegakan Hukum Indonesia (PRAKUMI), Indrawiyana, mengecam pola-pola penyelesaian masalah yang dilakukan oleh Suprapto pada kasus hilangnya bajaj miliknya yang dioperasikan oleh Wiji.

Baca:

Bajaj Majikan Raib, Wiji Dipaksa Ngangsur Sampai Lunas

Indra menilai banyak kejanggalan dalam kasus hilangnya bajaj yang kemudian tanggung jawab ditimpakan penuh pada seorang Wiji tanpa melewati proses-proses yang seharusnya.

“Pertama, tenor kredit 36 bulan kenapa tidak ada asuransi, seharusnya Suprapto fokus pada ini dulu dengan mendasarkan LP yang diterbitkan polisi,” jelasnya dihubungi eSKaHa (21/12/2016).

Menurut aktivis yang pernah mempraperadilan Polres Klaten dalam kasus penanganan Galian C ini, sebagai seorang pensiunan polisi Suprapto semestinya paham dan menghormati proses pelaporan. Ditambah lagi, yang aktif mengurus masalah ini adalah Agung, anak Suprapto yang juga anggota Polres Jakarta Barat.

“Lha ini, dia (Suprapto, red), justru mengambil langkah yang kontraproduktif dengan memaksa Wiji menanggung seluruh sisa angsuran yang nominalnya 80 juta lebih”, ungkapnya.

Menurutnya, dari sisi kepatutan langkah Suprapto ini jelas tidak elok, dan sangat jauh dari prinsip-prinsip Kode Etik Polri sebagaimana diatur dalam Perkap Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik Polri.

Kejanggalan selanjutnya adalah ketika STNK dan kunci bajaj telah disita oleh Polsek Kebon Jeruk namun tidak ada terbitnya LP.

“Ini kan lucu, masak polisi berani nyita barang bukti tanpa menerbitkan LP dan berita acara penyitaan?” tanyanya heran.

Terkait masalah ini, Indra berencana menyurati Polres Jakarta Barat untuk meminta penjelasan sumirnya langkah Polsek Kebon Jeruk dalam penyitaan STNK dan kunci dari tangan Wiji.

“Apa polisi tidak membaca Perkap Nomor 14 Tahun 2012 tentang manajemen penyidikan? Kami akan surati Kapolres Jakbar dan saya tembuskan ke Polda Metro Jaya, Kapolri, sekalian Kompolnas, dan IPW,” terang Indra.

Lebih lanjut Indra menyoal kunci serep yang mestinya dipegang oleh Suprapto dan ini bisa jadi pintu masuk menguak raibnya bajaj tersebut.

“Polisi musti selidiki, siapa yang pegang kunci serep, masih ada atau tidak. Kalau ternyata kunci serep tidak ada, jelas pertanyaan besar”, tandas Indra.

Terkait langkah penyelesaian gegabah yang dilakukan oleh Suprapto ini, Indra khawatir akan semakin merusak citra Polri di mata masyarakat.

Suprapto dan Agung, yang seharusnya bisa memberikan contoh kepatuhan dan ketaatan pada hukum justru berlaku sebaliknya, dan ini bisa semakin menguatkan stigma negatif masyarakat terhadap institusi Polri.

“Kalau Suprapto bijaksana, harusnya dia tunggu proses LP selesai, urus asuransinya. Beri lah contoh yang baik pada masyarakat, apalagi kepada Wiji yang hampir tiap hari bekerja keras mencarikan setoran untuk Suprapto. Apa tidak ada belas kasihan, hati nurani Suprapto di mana?”, pungkas Indrawiyana.

Facebook Comments

Related Posts

Add Comment