Keterbatasan pada Titik Nadhir

Derita Dewi, Siapa Peduli?

Dewi Rahayu (15 tahun), siswi kelas VI SD Negeri Kemiri II jelas tidak mampu merasakan keceriaan laiknya anak-anak seumuran-nya. Sempat beberapa kali tidak naik kelas karena waktunya habis tersita untuk bekerja bertahan hidup sepulang sekolah, dewi tinggal bersama ibunya di sebuah rumah yang lebih layak disebut sebagai kamar kos ukuran 3 x 6 meter.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk makan dan uang saku sekolahnya, Dewi bekerja mencuci baju tetangga yang menyuruhnya. Untuk jasanya itu diberi diberi upah ala kadarnya tanpa standar dan kelayakan pengupahan tentunya.

“Dewi nyuciin baju tetangga sekitaran sini,” terang tetangga dekat Dewi yang tidak bersedia disebutkan jatidirinya.

Bibit (39 tahun) ibu Dewi, membenarkan hal ini. Kondisi fisiknya sangat memprihatinkan, untuk berjalan secara normal saja sangat sulit, apalagi bekerja yang tentu membutuhkan kestabilan fisik dan keseimbangan raga.

Informasi yang dihimpun eSKaHa, dulu fisik Bibit normal, diduga karena dianiaya suaminya, Bibit mengalami kecacatan permanen yang menyebabkan ia tak mampu berjalan, tangannya mengalami kelumpuhan, bicaranya pun terbata-bata.

Saat ditanyai mengenai penganiayaan yang menimpanya sekira 10 tahun yang lalu, Bibit hanya menjawab singkat

Enggih (iya, red),” jawabnya lirih tanpa mampu menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya.

Ayah Dewi, Jiman (65 tahun), sama sekali tidak mempedulikan kehidupan Dewi. Padahal, Jiman juga tinggal di Klaten, tepatnya di Tombol, Kiringan, Tulung Klaten.

Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan ini, Dewi dan ibunya sama sekali belum tersentuh bantuan atau pun program dari dinas sosial kabupaten Klaten.

Supali (59 tahun), Ketua RT. 16 RW. 08, Kemiri tempat Dewi berdomisili, memberikan pernyataan yang lebih mengejutkan lagi. Kepada eSKaHa ia menjelaskan bahwa Bibit tidak masuk dalam daftar penerima BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari pemerintah pusat.

“Saya dulu sudah mengajukan tapi namanya (Bibit, red) tetap tidak ada dalam daftar penerima bantuan BLT,” ungkapnya ditemui eSKaHa di rumahnya.

Parahnya lagi, Bibit tidak memiliki dokumen kependudukan (Kartu Keluarga dan KTP) yang memang menjadi persyaratan dalam pengajuan bantuan.

“Bibit gak punya KK, KTP karena dulu waktu dipulangkan suaminya statusnya masih ikut KK suami-nya”, jelas sumber terpercaya eSKaHa.

Mboten duwe (tidak punya, red),” jawab Bibit yang di-iyakan oleh Dewi dengan polos.

Ora gableg (tidak punya, red),” jelas Dewi sambil memberesi buku dan pakaian di rumahnya.

Sebuah ironi menyayat hati, ketika tahun 2015 Klaten menyandang predikat Kabupaten layak anak, namun Dewi masih perih tertatih untuk tetap mempertahankan kehidupannya, seorang diri.

 

Facebook Comments

Related Posts

Add Comment