Rencana Pembangunan Gedung Baru

Membangun Gedung DPRD Sukoharjo untuk Siapa?

Peradaban berkembang dan manusia yang berpikiran maju tentu tidak pernah melupakan akal sehatnya untuk mengisi aktivitas dalam lingkungannya demi kesinergian. Namun, ketika keterusikan dalam kemapanan untuk sebuah kepentingan diri dan kelompok akan terjadi pergolakan jiwa dan keinginan.

Meski pada kenyataannya harus berbenturan kepentingan yang lain, apa lagi pro dan kontra untuk sebuah keinginan kalau tidak ingin dikatakan proyek. Bulan Agustus – September 2016 awal mula salah satu denyut gagasan untuk pembongkaran-pembuatan gedung baru DPRD Sukoharjo.

Keberadaan gedung parlemen yang berada di jantung kota kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu ciri kota kabupaten. Peta sejarah kekuasaan kurang lebih adalah kabupaten, alun alun, bangunan fisik religi, dan yang lainnya.

Pihak eksekutif berkeinginan membongkar gedung DPRD Sukoharjo dan akan memindahkannya ke lain tempat di lokasi kelurahan Mandan Sukoharjo. Hal ini mendapat pertentangan dengan berbagai alasan yang bermunculan di media (cetak, online, medsos, termasuk di wedangan). Tapi, sudah pasti disetujui DPRD. Anggota legislatif yang mendominasi gedung parlemen yang menyetujui, sementara anggota parpol yang lain hanya gemremeng antara ya dengan cacatan dan menolak dengan catatan.

Bahkan ada yang bersuara slendro – pelog dan fals = ra jelas. Bicara tetapi hasilnya tetap kalah, ada juga yang pesimis ketika dihadapkan keabstrakan voting. Permasalahannya, gedung DPRD masih cukup layak untuk dipergunakan. Jikalau pun ingin menambah bangunan, seyogyanya perluasan itu kesebelah timur (gedung Budi Sasono), yang katanya justru Budi Sasono diperluas ke gedung DPRD. Nah, apakah rencana itu tidak sebaliknya. Sehingga gedung Budi Sasono yang dipindah ke Mandan. Menilik dari kepentingannya, jauh lebih penting gedung DPRD yang berada di jantung kota dibanding Budi Sasono?

Marilah kita, yang peduli fenomena pemindahan gedung DPRD bersinergi berbeda pendapat untuk asas kemanfaatan dan urgensinya. Pihak yang terkait perlu membangun komunikasi dengan elemen masyarakat Sukoharjo, budayawan, dan yang lainnya. Secara peraturan perundang-undangan dan politis memang kepada legislatif pihak eksekutif sebagai partner.

Alangkah indah dan mesranya bila elemen ataupun warga diajak rembugan, lepas nantinya harus dipindah atau tidak. Sementara ini para tokoh masyarakat, para tokoh LSM dan ormas tidak banyak menyoal hal ini secara intens?, Hanya beberapa saja yang sesekali bicara dan menyoal. Apakah sudah terkondisikan ataukah memang apatis dan pesimis ra wurung ya kalah, tur ya arep ngapa?

Sebenarnya membangun (memindah dan membangun kembali gedung DPRD Sukoharjo yang baru untuk siapa?.) Kalimat ini memang berkesan pertanyaan bodoh, bahkan hanya menjadi senyuman sinis bagi yang tidak sepaham, namun akan berkesan mengetuk hati.

Opini Bambang Hermanto

Redaktur Majalah Sastra Omah Tulis, Cerpenis, Novelis, Penyiar Radio, Bakul Gas, dan Apa Wae Ora Mbalekke

 

Facebook Comments

Related Posts

One Response

Add Comment