Polisi Teladan

Banuari, Perwira Polisi Berhati Mulia Sahabat Warga

Ungkapan “Tidak ada polisi jujur kecuali polisi tidur” agaknya mulai uzur. Banuari salahsatu sosok yang mementahkan asumsi publik atas integritas polisi dalam melakukan kerja pelayanan, pengabdian, dan pengayoman kepada masyarakat.

Perwira Polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi ini benar-benar menunjukkan kelas seorang perwira. Menjelang tiga tahun memimpin Kepolisian Sektor Polokarto, sama sekali tidak ada suara-suara miring terkait dengan pola kepemimpinan yang ia jalankan. Yang ada justru warga sangat dekat dan bersahabat dengan polisi yang pernah bertugas di Papua selama 25 tahun ini.

“Pak Kapolsek ini memang lain daripada yang lain mas, suatu waktu saya curhat karena ada permasalahan hukum warga dan minta tolong untuk diselesaikan benar-benar di luar dugaan. Tidak ada dimintai uang, dipersulit, dijebak, atau dipermainkan seperti anggapan awam. Alih-alih diperas, warga justru ditraktir sama Pak Banuari di rumah makan sambil menasehati warga untuk tidak melanggar hukum dan tetap menjaga kondusivitas wilayahnya masing-masing”, ungkap Samat seorang warga Polokarto kepada eSKaHa (25/05/2016).

Sisi humanis polisi sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Polri jelas terlihat ketika suami dari Ninik Isti Rahayu, S.E. terlihat sedang berbincang santai dengan warga di pos kamling, warung HIK, bahkan mendengarkan keluhan warga terkait kondisi kamtibmas selepas kerja bakti yang diselenggarakan oleh warga.

“Bapak itu supel mas, tidak pernah ada jarak baik dengan warga maupun anak buah”, tutur Aiptu Agus Ganda Saputra kepada eSKaHa (25/05/2016).

Kanit Sabara Polsek Polokarto ini kemudian menjelaskan kedekatan Kapolsek dengan anggota yang selalu mengedepankan dialog dalam setiap penyelesaian masalah dan mendengarkan aspirasi anak buah terkait masalah-masalah yang ada di kantor.

“Pak Kapolsek ini memberi contoh, tidak hanya perintah saja jadi anak buah sungkan dan hormat dengan beliau”, jelas polisi yang akrab dipanggil Ganda ini.

“Masalah DIPA bapak benar-benar layak jadi contoh, lihat laporan yang ditempel di kantor (polsek polokarto, red) pelaksanaannya ya persis yang ditempel. Kadang-kadang bapak malah nambah dari kantong pribadi, misalnya anggaran untuk Babin 900 ribu nanti ditambah jadi 1 juta”, jelas Ganda.

Bagi Banuari yang memiliki NRP 65 ini, jabatan bukan lah segala-galanya dan ia berpatokan pada falsafah “nrima ing pandum“. Banuari melihat jabatan sebagai amanah yang harus diemban dan dilaksanakan sebaik-baiknya karena kelak pasti dimintai pertanggungjawaban atas amanah tersebut.

“Jangan dilebih-lebihkan mas, saya hanya menjalankan tugas semaksimal mungkin yang saya mampu. Saya tidak pernah minta-minta jabatan tapi saya harus siap ketika diperintah atasan, bukan karena apa pun tapi karena semuanya kelak dipertanggungjawabkan”, ujar perwira yang tinggal di Jl. Rajawali 1 Nomor 2, Gonilan, Sukoharjo ini.

Saat ditanya apakah tidak berbenturan dengan resistan yang ada di institusi, Banuari menjawab dengan diplomatis.

Ngeli ning ora keli (mengikuti arus tapi tetap memiliki prinsip, red), saya tidak harus berbenturan secara frontal karena dengan otoritas yang saya miliki, setidaknya saya bisa memulai kebaikan itu dari polsek yang saya komando-i”, jawab bapak dari 3 anak ini.

Facebook Comments

Related Posts

Add Comment