Derita Peserta BPJS

Halo Dr. Oen, Bayi Belum Lahir Disuruh Pulang?

eSKaHa – Sukoharjo | Anik Budiyanti (36 tahun), warga Gremet, Manahan, Surakarta harus menahan rasa sakit saat pihak rumah sakit dr. Oen Solo Baru memaksanya untuk pulang. Sekujur tubuhnya masih sakit, kaki pegal dan seluruh sendi ngilu disertai suhu tubuh yang relatif tinggi.

Sekira pukul 19.00 WIB kemarin (28/04/2016), karena perutnya mual dan rasa sakit yang luar biasa Anik kemudian diantar oleh suaminya ke Dr. Oen Solo Baru.

Feeling memang sudah mau lahir, dan memang benar dicek sudah buka satu,”, terang Sutarno kepada eSKaHa (29/04/2016).

Anik kemudian diperiksa bidan UGD dan dikenai biaya 70 ribu rupiah.

Gak tau buat apa, hanya uthik-uthik kemudian suruh bayar 70 ribu,” Sutarno mengeluhkan angka 70 ribu karena dia merupakan peserta BPJS kelas II.

Yang kemudian menjadi masalah adalah sekira pukul 22.00 Anik disuruh pulang oleh pihak rumah sakit dengan alasan kekurangdaruratan kondisi pasien.

Pihak rumah sakit membenarkan bahwa pasien atas nama Anik Budiyanti memang dipulangkan sekira pukul 22.00 WIB karena kondisinya tidak memenuhi syarat menggunakan BPJS.

“Iya mas, itu tidak darurat, yang bisa dicover BPJS itu kalau ketuban pecah, terjadi pendarahan,” terang Dani Retno Kuswardani (29/04/2016).

Dani kemudian menjelaskan bahwa untuk kondisi normal, peserta BPJS harus melahirkan di Puskesmas.

“Karena tidak darurat ya di puskesmas, kalau darurat baru ke rumah sakit,” tegas Dani di ruang UGD dr. Oen Solo Baru.

Sutarno membantah keterangan Dani bahwa kondisi istrinya tidak dalam keadaan darurat karena Bidan Puskesmas Sukoharjo, Susi mengatakan bahwa istrinya harus segera dibawa ke rumah sakit karena diameter kandungannya yang sangat lebar dan juga mengingat usia Anik yang secara ilmu kesehatan harus mendapatkan penanganan ekstra.

“Bidan Susi mengatakan begitu, tapi bayi belum lahir disuruh pulang?” keluh Sutarno.

Kejadian seperti ini adalah kejadian berulangkali yang dialami oleh pasien peserta BPJS. Rumah sakit seperti alergi ketika berhadapan dengan peserta BPJS dan selalu pasien yang akhirnya berada pada posisi sulit.

Atas kejadian ini, Sutarno kemudian mempertanyaan tag line kebanggaan rumah sakit dr. Oen “Teduh untuk Sembuh”, apakah harus diganti dengan “Gaduh untuk Sembuh”, karena dalam beberapa kejadian untuk bisa mendapatkan pelayanan semestinya, pasien atau keluarga pasien harus ribut dulu dengan pihak rumah sakit dr. Oen.

Facebook Comments

7 Comments

Add Comment