Kebiasaan Buruk Oknum Pegawai PT. Pos Indonesia Menumpuk Surat di Balai Desa

Yang Terhormat Dirut PT Pos Indonesia: Kirimkan Surat ke Alamat Saya, Bukan ke Balai Desa!

Tadi malam, seorang ibu datang kepada saya, menangis menceritakan ihwal surat  pemberitahuan perpanjangan masa penahanan suami-nya disampaikan sudah dalam keadaan terbuka. Patut diduga oknum perangkat desa yang mengantarkan telah membuka surat tersebut dan membacanya. Jelas, ibu ini malu.

Samino, fresh graduate dari Universitas Negeri kenamaan di Yogyakarta bertengkar hebat dengan seorang Kepala Dusun karena harapannya bekerja di sebuah perusahaan bergengsi musnah. Apa sebab, surat panggilan kerja terlambat disampaikan oleh si Kepala Dusun.

Pak Dirut, 2 (dua) ilustrasi di atas adalah akibat dari kebiasaan buruk oknum “tukang pos” yang mengantarkan surat ke alamat tujuan di desa saya ke Balai Desa.

Pak Dirut, kebiasaan buruk oknum “tukang pos” bapak menjadi simalakama bagi aparatur pemerintah desa. Satu sisi mereka dimarahi warga jika terjadi surat terlambat disampaikan, di sisi yang lain yang menerima gaji dari pengiriman surat bukan mereka. Lucu jika mendapatkan beban pekerjaan tapi “orang pos” yang mendapatkan “imbalan”.

Pak Dirut, saya yakin menertibkan hal ini bukan perkara yang sulit. Beri sanksi yang tegas bagi “tukang pos” nakal yang malas mengantarkan surat ke alamat tujuan dan hanya dititipkan di balai desa saja..

Pak Dirut, sekali lagi saya sampaikan. Saya Orang Desa, Kirimkan Surat ke Alamat Saya, Bukan ke Balai Desa!

Sekian dan Terimakasih

Toying Harwulan

Facebook Comments

Related Posts

15 Comments

Add Comment