Media Sosial Pemicunya

Selingkuh Sebab Utama Angka Perceraian Meningkat di Sukoharjo

Perceraian meningkat dari tahun ke tahun di Sukoharjo. Kondisi ini sangat memprihatikan banyak pihak karena output dari perceraian biasanya di-ikuti oleh masalah sosial lainnya.

Rini (36 tahun, bukan nama sebenarnya) tertunduk lesu di ruang tunggu sidang Pengadilan Agama Sukoharjo. Kesedihan begitu terpancar di wajahnya saat eSKaHa menyapa dan mencoba bertanya.

“Saya nunggu sidang, mas. Bojoku edan karo penyanyi campursari. Mulane apike njaluk pegat wae, wis ra kuat aku. (Suami saya tergila-gila pada penyanyi campursari. Makanya lebih baik saya minta cerai karena sudah tidak kuat lagi).” begitu Rini menjawab pertanyaan dengan tatapan mata kosong sambil menarik nafas panjang, sambil sesekali menyeka air matanya. (Rabu, 25/11/2015).

Data dari Pengadilan Agama Sukoharjo menyebutkan bahwa tahun 2012 ada 1274 kasus, tahun 2013 ada 1339 kasus, kemudian tahun 2014 ada 1383 kasus. Untuk tahun 2015, sampai bulan Oktober telah diputus 1287 kasus. Dengan rerata 128 kasus per bulan bisa diperkirakan tahun 2015 ini akan ada kurang lebih 1415 kasus.

Penyebab utama meningkatnya angka perceraian dari tahun ke tahun di Sukoharjo adalah perselingkuhan. Hal ini diungkapkan seorang hakim di Pengadilan Agama Sukoharjo saat ditemui eSKaHa di kantornya.

“Angka perceraian meningkat terus dan penyebab utamanya perselingkuhan”, jelas Drs. Makali (Rabu, 25/11/2015). Lebih lanjut jebolan IAIN Walisongo 1990 ini mengungkapkan bahwa perceraian yang disebabkan oleh perselingkuhan ini dari tahun ke tahun meningkat terutama dikarenakan faktor handphone.

“Media sosial sangat berpengaruh terhadap terjadinya perselingkuhan ini. Kenalan, saling curhat, selanjutnya penjenengan (anda, red) tahu sendiri, dan dari beberapa kasus yang ada, rata-rata mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai.” jelas hakim yang gemar bermain tenis ini.

Meski perselingkuhan jadi penyebab utama, namun dalam persidangan jarang sekali ditonjolkan untuk beberapa alasan. “Menjaga nama baik, dan menjaga perasaan anak-anak supaya tidak jadi cermin buruk bagi keturunan para pihak yang berperkara. Maksudnya supaya tidak ditiru sama anak-anaknya kelak.” pungkas suami Nur Afifah ini.

Facebook Comments

Related Posts

Add Comment